Istanbul (KABARIN) - Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu disebut sudah satu suara untuk memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran, terutama dengan membidik jalur ekspor minyak Iran ke China.
Kesepakatan itu, menurut laporan Axios, tercapai saat pertemuan keduanya di Gedung Putih pada pertengahan pekan lalu.
Seorang pejabat senior AS menyebut fokus utama tekanan ada pada sektor minyak.
"Kami sepakat untuk mengerahkan tekanan maksimal terhadap Iran, misalnya terkait penjualan minyak Iran ke China," ujarnya.
Meski punya tujuan sama, Trump dan Netanyahu disebut berbeda cara pandang soal pendekatan. Netanyahu menilai kesepakatan dengan Iran sulit terwujud dan rawan dilanggar. Sementara Trump masih optimistis jalur diplomasi tetap bisa dicoba.
"Kita lihat apakah itu memungkinkan — mari kita coba," kata pejabat AS itu menirukan pernyataan Trump.
Pemerintah AS disebut akan tetap menjalankan strategi tekanan maksimal, bersamaan dengan negosiasi nuklir dan peningkatan kehadiran militer di kawasan Timur Tengah, sebagai antisipasi jika jalur diplomasi tidak membuahkan hasil.
Lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran selama ini mengalir ke China. Jika aliran itu ditekan, dampaknya diyakini bisa langsung terasa pada ekonomi Iran dan memengaruhi sikapnya soal program nuklir.
Di sisi lain, Trump juga telah meneken perintah eksekutif baru yang membuka jalan bagi AS untuk memperketat sanksi, termasuk memberi tarif hingga 25 persen kepada negara-negara yang masih menjalin hubungan dagang dengan Iran.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026